Hiki's Lifelog

Weeknotes: 41 to 43-2026

~1 minute read

Di minggu ke-41 hingga 43 ini, tak banyak yang saya lakukan.

Di minggu ke-41, kegiatan utama yang saya jalani hanyalah ikut kelas Engineering. Hanya itu. Selebihnya, saya hanya di rumah saja sepanjang hari.

Di minggu ke-42, kegiatan utama yang saya jalani adalah pergi ke psikiater di hari Senin, meminjam buku di perpustakaan umum di hari Sabtu, dan pergi ke kelas Engineering. Hanya itu saja, sepertinya.

Di minggu ini (minggu ke-43), di hari Selasa, saya pergi ke lapangan geothermal lagi setelah sekian lama. Karena di sana tidak diperbolehkan foto-foto, jadi maaf jika saya tak dapat menampilkannya di sini. Kegiatan yang menyenangkan (sekaligus melelahkan). Rasanya hanya itu sajalah kegiatan major yang saya ikuti di minggu ini (selain ikut kelas Engineering, tentunya).

Sekian rangkuman singkat kegiatan yang saya ikuti selama tiga minggu terakhir.

Sampai jumpa di Weeknotes selanjutnya.

Weeknotes: 40-2026

2 minutes read

Halo dan selamat datang di Weeknotes minggu ke-40 saya.

Di minggu ini, kondisi tubuh saya mulai membaik.

Pada hari Senin, saya mengembalikan buku yang saya pinjam ke perpustakaan, lalu mampir ke event Semesta Buku di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Walaupun ada beberapa buku incaran yang ingin saya beli di sana, pada akhirnya saya pun mengurungkan niat untuk beli buku (karena dana saya menipis). Saya hanya melihat-lihat buku, sambil berharap suatu hari bisa saya memiliki buku tersebut.

Semesta Buku - Gerbang

Gerbang Semesta Buku

Semesta Buku - Hall

Suasana Semesta Buku di hari Senin

Di hari Selasa hingga Kamis, saya mempelajari kembali materi-materi yang telah diberikan di kelas Engineering, karena ujian akhir sudah dekat dan graduation tinggal menghitung hari. Semoga saya bisa lulus dengan nilai memuaskan.

Di hari Jumat dan Sabtu, saya kembali mengikuti kelas Engineering setelah minggu lalu tak masuk karena sakit. Materi di minggu ini tak kalah menariknya, walaupun ada beberapa bagian yang masih belum saya pahami karena tak terbayang di kepala. Intinya, kelas di minggu ini berjalan dengan baik.

Lalu, pada Sabtu malam hingga hari ini, saya coba mengambil kelas Geologi dasar di Open University karena bosan dan ingin mengisi waktu luang selain membaca buku (dan rebahan). Sejauh ini, saya telah melewati minggu pertama dan mulai masuk materi minggu kedua, dan dapat membedakan secara visual seperti apa batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Ilmu yang menurut saya penting sekali.

Sekian Weeknotes untuk minggu ini. Sampai jumpa minggu depan.

Weeknotes: 39-2026

~1 minute read

Kondisi saya minggu ini tak begitu baik.

Tiga hari setelah pergi ke ITB, saya jatuh sakit.

Di hari Selasa, tenggorokan saya mulai radang. Keesokan harinya, di hari Rabu, saya pun mulai pilek. Dua hari kemudian, di hari Jumat, badan pun mulai meriang serta pilek tak kunjung membaik. Karena kondisi badan makin menurun, siang harinya (setelah solat Jumat) saya pun ke Puskesmas untuk berobat, sekalian minta surat sakit buat kelas Engineering.

Kecewa karena tak bisa ikut kelas Engineering sebanyak dua pertemuan? Sangat. Terlebih lagi, saya sudah sering sekali tak masuk (lebih dari lima pertemuan), serta kedua materi di minggu ini menarik perhatian saya. Namun, mau bagaimana, saya tak ingin merasakan lagi yang namanya pingsan atau ambruk di jalan karena memaksakan diri masuk kelas (saat kuliah dulu saya pernah ambruk saat jalan menuju kampus).

Setelah berobat, selama dua hari berikutnya (kemarin dan hari ini) yang saya lakukan hanyalah rebahan sambil mendengarkan lagu, makan, lalu rebahan lagi. Per hari ini, kondisi badan pun sedikit demi sedikit mulai membaik. Syukurlah.

Sekian Weeknotes saya di minggu ini. Sampai jumpa minggu depan.

Weeknotes: 38-2026

4 minutes read

Di minggu ini, saya membeli sebuah IEM kembali, karena IEM sebelumnya, KZ-EDX Pro 2 (yang baru saya beli beberapa bulan yang lalu), suara yang dihasilkan di drive kanannya jadi kecil sekali. Saya sudah coba klaim garansi, namun alih-alih membantu, saya malah merasa dipersulit. Maka dari itulah, saya pun memutuskan untuk beli yang baru saja, daripada urusan makin ribet.

IEM yang saya beli kali ini adalah: GK-KUNTEN!

GK-KUNTEN

GK-KUNTEN

Alasan saya memilih GK-KUNTEN adalah karena saya menemukan banyak review bagus mengenai IEM satu ini. Selain itu, harganya pun masih terjangkau di kantong saya (dibawah 300 ribu). Saat saya mencobanya, rasanya wajar jika IEM ini mendapat review bagus. Semoga GK-KUNTEN yang saya beli ini awet, tanpa masalah berarti.

Lalu, di hari Jumat saya pergi ke Perpustakaan Cikini untuk mengembalikan buku yang saya pinjam. Siang di hari itu terasa ramai karena ada pertunjukan musik di depan TIM. Setelah mengembalikan buku di perpustakaan, saya pun membeli sebuah kopi kaleng, kemudian menonton pertunjukan musik tersebut. Saya tak tahu siapa atau band apa yang membawakan lagu saat itu. Yang saya ingat adalah performer-nya adalah seorang perempuan yang membawakan lantunan lagu yang enak didengar (mirip-mirip Mocca).

Show

Me, the show, and a canned coffee

Dan kemarin, di hari Sabtu, saya mengunjungi ITB untuk menghadiri presentasi tentang CCS/CCUS (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization, and Storage). Saya berangkat dari Jakarta sekitar pukul 6 pagi dan sampai di ITB sekitar pukul 10. Presentasi berlangsung hingga sore hari. Setelah presentasi selesai, saya mengunjungi beberapa lab ITB yang terlihat sangat modern dan terawat sekali (lab di kampus saya dulu jadi terasa tak ada apa-apanya kalau dibandingkan). Setelah presentasi dan lab visit selesai, saatnya saya pulang. Di perjalanan, saya sempat mampir ke rumah makan Nasi Bancakan untuk makan malam. Saya sampai di rumah pukul 1 dini hari.

Presentation

Presentasi

Lunch-1

Makan siang saya di sela sesi presentasi

Lunch-2

Makanan penutup: kue serabi

Coffee

Kopi tubruk

ITB

Depan gerbang ITB di sore hari

Dinner

Makan malam di Nasi Bancakan

Minggu yang menyenangkan.

Sampai jumpa di Weeknotes saya selanjutnya.

Weeknotes: 34 to 37-2026

3 minutes read

Halo dan maaf baru bisa post Weeknotes lagi.

Langsung saja saya rangkum apa yang saya lakukan dari minggu 34 hingga minggu ke-37.

Selama 4 minggu terakhir ini (tidak terasa sudah sebulan, ya), kondisi mental saya mulai membaik serta jam tidur saya perlahan-lahan mulai pulih, dari yang tadinya baru bisa tertidur pada pukul 3 dini hari jadi bisa tertidur pada pukul 22 atau 23 malam.

Soal kegiatan, hampir tak ada perbedaan signifikan, sama seperti sebelumnya. Saya tetap ikut kelas Engineering dengan penuh antusias dan semangat (dan lelah setelahnya), cari loker di Internet, dan belajar apapun yang menarik perhatian saya.

Di tanggal 20 Agustus lalu, saya menghadiri IIGCE karena diajak oleh rekan-rekan dari kelas Engineering. Secara keseluruhan, acaranya menyenangkan. Saya ketemu teman-teman dari kelas Engineering serta teman lama, customer service di booth betul-betul menyenangkan, dan dapat berkenalan serta mengobrol dengan orang-orang yang ahli di bidang mereka masing-masing. Lalu, di tanggal 9 September, saya mengunjungi pameran Mining dan Oil and Gas di JI Expo Kemayoran, Jakarta. Berbeda dengan IIGCE yang buat saya menyenangkan, di pameran ini saya mendapatkan perlakuan yang dingin dan tak menyenangkan dari salah satu booth sebuah perusahaan besar, hanya karena saya tak dapat menjawab "kerja di mana?" (walaupun saya sudah sediakan kartu nama beserta jabatan lama saya). Iya, sih, saya sedang mencari pekerjaan saat ini, sedangkan acara ini untuk bisnis, tapi tak perlu lah bersikap seperti itu (sambil menunjuk pintu keluar pameran). Hanya satu jam saya bertahan di sana, lalu saya memutuskan untuk pulang. Saya tak akan lagi datang ke event tersebut di tahun mendatang.

Lalu, dua minggu yang lalu saya memutuskan untuk mempesiunkan smartwatch saya karena tak lagi dapat di-charge. Karena saya sudah terbiasa memakai jam tangan dan rasanya aneh jika tak ada jam tangan di pergelangan tangan kanan saya (saya kidal, btw), maka saya memutuskan untuk membeli sebuah jam digital yang bisa dibilang legendary: Casio F-91W. Awalnya saya sangat senang pakai jam satu ini, sampai tragedi di Sabtu kemarin (12 September) mengubah segalanya: LCD-nya rusak karena kecerobohan saat membongkar F-91W tersebut (saya terlalu keras menekan LCD-nya saat memasang light spreader hingga mengalami bleeding). Akibat hal tersebut, saya kembali mengeluarkan uang untuk membeli F-91W lagi. Catatan untuk diri sendiri: kali ini, jangan sembarangan bongkar lagi, kalau bisa jangan bongkar selain ganti baterai.

Dan last but not least, Sabtu lalu juga kelompok saya (dari kelas Engineering) mengadakan acara olahraga di salah satu kompleks olahraga. Singkat cerita, kelompok kami berhasil mengadakan acara dengan baik dan acara berlangsung sangat seru sekali. Terima kasih banyak buat semua rekan-rekan, pengurus, serta alumni dan sponsor yang sudah datang.

Softball Glove

Softball Gloves

Terima kasih banyak sudah membaca Weeknotes saya kali ini.

Sampai jumpa di Weeknotes saya selanjutnya.

Weeknotes: 33-2026

~1 minute read

Di minggu ini, saya pergi ke psikiater untuk kontrol bulanan. Tentu saja, saya menyampaikan semua uneg-uneg saya selama sebulan terakhir: kesulitan tidur di malam hari, keinginan untuk mengundurkan diri dari kelas Engineering, rasa duka atas kehilangan Bapak yang muncul kembali, hingga keinginan mengakhiri hidup. Saya sampaikan semua hal tersebut hingga mata saya berkaca-kaca, karena tak tahu harus bagaimana menjalani hidup dengan semua perasaan tersebut. Setelah menyampaikan semuanya, saya merasa sedikit lega, dan dokter pun juga mendengarkan cerita saya dengan penuh minat (dan sesekali memberi saran). Selain pergi ke psikiater, hal utama yang saya lakukan adalah saya izin kelas Engineering sebanyak dua pertemuan dengan alasan sakit (kondisi mental terpuruk bisa dibilang sakit, bukan?) dan menghabiskan sebagian besar waktu dengan mendengarkan lagu sambil rebahan (dan bengong).

Lalu, di minggu ini saya menghabiskan dua light novel, yaitu The Amazing Village Creator: Volume 4 dan Campfire Cooking in Another World with My Absurd Skill: Volume 17. Novel ringan yang dapat saya selesaikan kurang dari sehari. Bagaimana dengan buku Teka-Teki Rumah Aneh atau Strange Houses yang saya pinjam? Belum saya sentuh sama sekali.

Sekian Weeknotes di minggu ke-33, tahun 2026.

Sampai jumpa di Weeknotes selanjutnya.

Weeknotes: 32-2026

~1 minute read

Singkat saja.

Di awal minggu, saya kembali bermain Stardew Valley sebagai pelampiasan karena tak bisa mengerjakan UTS dengan baik. Saya buat karakter baru, dengan tipe kebun yang berbeda dari sebelumnya. Ya, saya mulai dari awal lagi, dari tahun pertama. Singkat cerita, saya bermain Stardew Valley hingga akhir pekan. Lalu, di hari Jumat saya memasang SSD bekas ke STB lalu saya sambungkan ke Navidrome. Sekarang, Navidrome saya dapat menampung lagu hingga 100 GB lebih (yeay!). Soal kondisi mental, tidak bisa dibilang baik. Saya terkadang masih kepikiran soal mencari pekerjaan, cara mengakhiri hidup, dan Bapak yang sudah tiada. Selain itu, jam tidur saya makin rusak, dan menyebabkan banyak kegiatan harus saya batalkan secara sepihak karena hal tersebut.

Selain dua hal tersebut, di minggu ini pula saya telah selesai baca buku After the Quake, karya Haruki Murakami. Kumpulan cerita pendek yang cukup menyenangkan. Setelah selesai baca di hari Selasa, saya pun mengembalikan buku tersebut dan kembali meminjam buku yang lain. Buku yang saya pinjam pada minggu ini adalah Teka-Teki Rumah Aneh atau Strange Houses, karya Uketsu. Selain buku ini, saya pun membaca buku karya Lin Yi-Han yang berjudul Fang Si-Chi's First Love Paradise.

Sekian Weeknotes di minggu ke-32, tahun 2026. Sedikit sekali kegiatan saya, bukan?

Sampai jumpa di Weeknotes selanjutnya.

Ketika "Podcast" Bukan Lagi Podcast

3 minutes read

Kalau dibilang saya suka podcast apa tidak, saya suka podcast.

Saya suka podcast dengan genre komedi yang menghibur dan menggelak tawa, pengembangan diri, atau podcumentary (gabungan dari podcast dan documentary). Podcast yang bagus buat saya adalah podcast yang dapat membawa pendengarnya seakan-akan sedang ngumpul (atau nongkrong) bersama teman dan menyimak percakapan-percakapannya. Selain itu, saya suka podcast yang durasinya tak panjang (tak lebih dari 30 menit per episode).

Definisi Podcast

Pertama kali saya dengar kata podcast adalah pada tahun 2008, saat saya masih SMA. Namun saya baru benar-benar dengar podcast saat saya berkuliah beberapa tahun kemudian.

Sederhananya, kata podcast adalah gabungan dari kata "iPod" dan "Broadcast", dan seingat saya diperkenalkan saat iPod Classic generasi kelima rilis.

iPod Classic 5th gen

iPod Classic generasi kelima, dengan Podcasts pada menu utamanya.

Berikut adalah definisi podcast, dari kamus Oxford Learner's Pocket Dictionary, edisi keempat, tahun 2008 (kamus yang saya punya):

Podcast: recording of something that you can download from the Internet and listen to on a computer or MP3 player.

Lalu, berikut definisi podcast dari kamus Merriam-Webster:

Podcast: a program (as of music or talk) made available in digital format for automatic download over the Internet.

Dari dua definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa podcast adalah program (lagu maupun percakapan) dalam format digital yang dapat diunduh di Internet dan dapat didengarkan melalui komputer, smartphone, iPod, hingga MP3 player.

Podcast Saat Ini

Podcast saat ini menurutku sudah menyimpang dari definisi awal.

Pertama, saat ini banyak podcast mulai menggunakan format video. Buat saya, media podcast hanyalah dalam bentuk suara, bukan suara ditambah dengan video. Podcast dengan media seperti itu lebih baik disebut "Vlog", bukan "podcast". Saya hanya ingin dengar apa yang kalian bahas, bukan menonton.

Selain itu, tak sedikit pula podcast yang hanya eksklusif di satu platform, tak lagi dapat diunduh, dan tak mendukung RSS. Anggap saja ada podcast "A". Pada awalnya ia menyebarkan podcast-nya di banyak platform, dapat diunduh, dan mendukung RSS. Namun, setelah beberapa tahun berselang (dan mereka terkenal), mereka memutuskan untuk menaruhnya di satu platform saja (alias eksklusif di platform tersebut), tak lagi dapat diunduh, dan mematikan fitur RSS-nya. Kalau dibilang kecewa, saya kecewa. Namun, sebagai pendengar saya bisa apa? Podcaster juga butuh uang.

Jadi, apa makna podcast menurut kalian?

Weeknotes: 31-2026

2 minutes read

Di minggu ini, salah seorang dari keluarga besar (om saya) menghembuskan nafas terakhirnya. Ia wafat dengan raut tenang, didampingi oleh keluarga.

Saat mendengar kabar ini, saya dan Ibu langsung menangis, karena om adalah orang yang baik sekali. Tak hanya itu, mendengar kabar ini juga, mengingatkan saya pada Bapak yang wafat pada Mei lalu. Rasanya, tahun ini banyak kabar duka datang dari keluarga besar, mulai dari nenek di rumah sebelah (yang juga keluarga besar saya) yang wafat pada bulan April lalu, lalu Bapak sebulan kemudian, kemudian salah satu kakak dari keluarga besar juga wafat pada dua minggu yang lalu, serta om saya.

Lalu, seminggu belakangan ini kehidupan saya hanya berkutat dengan belajar untuk UTS pada kelas Engineering dan mencoba memperbaiki jam tidur.

Di minggu ini, jam tidur saya masih berantakan. Ada kalanya saya bisa tidur sebelum pukul 22 malam, dan ada kalanya saya baru tertidur pada pukul 2 pagi. Mengenai UTS, dari skala kesulitan 1 sampai 10 (1 untuk sangat susah dan 10 untuk sangat gampang), mungkin ada pada nilai 4. Soal pilihan ganda saya banyak melakukan kesalahan, dan soal esai hanya jawab sekenanya (mungkin bisa dibilang, apa yang terlintas di kepala, itulah yang saya tulis). Intinya UTS kali ini rasanya payah. Entahlah, apakah saya bisa lulus dari kelas Engineering ini atau tidak.

Lalu di minggu ini, saya telah selesai baca buku The City and Its Uncertain Walls Karya Haruki Murakami. Buku ini langsung masuk ke dalam top 5 buku terbaik dari Murakami versi saya. Saat ini saya sedang membaca buku After the Quake, juga dari Haruki Murakami. Buku yang termasuk tipis, namun sampai hari ini saya masih belum dapat menyelesaikannya.

Sekian Weeknotes di minggu ke-31, tahun 2026.

Sampai jumpa di Weeknotes selanjutnya.

Mengirim Kartu Pos Kembali

2 minutes read

Sekitar dua tahun yang lalu, saya memutuskan untuk berhenti sejenak kirim kartu pos. Ada beberapa alasan: karena saya sering ke daerah terpencil pada saat itu, tarif kirim kartu pos antarkota dan antarnegara yang makin mahal, serta pengalaman buruk dengan seorang petugas kantor pos dekat rumah (walaupun saya sebetulnya bisa ke kantor pos lain).

Namun, beberapa waktu yang lalu, saya kembali lagi dengan kegiatan kirim-mengirim kartu pos ini. Alasannya sederhana: karena waktu luang sangat banyak (hanya bepergian sesekali saja, itupun hanya beberapa hari), dan tak tahu harus melakukan apa semenjak Bapak wafat (kesepian sangat di rumah bersama Ibu). Namun, berbeda dengan sebelumnya dimana saya biasanya kirim kartu pos dalam jumlah banyak dalam sekali kirim, kali ini saya menargetkan hanya kirim paling maksimal dua kartu pos setiap minggunya. Tak lebih.

Dan tiga minggu yang lalu, saya pun mengaktifkan kembali akun Postcrossing saya dan tarik satu demi satu alamat, setiap minggunya.

Saat saya kembali datang ke kantor pos dekat rumah saya, suasananya jauh lebih sepi dibandingkan dua tahun yang lalu. Kantor pos dekat rumah saya memang terbilang kecil, namun saya tak menyangka petugasnya hanya ada dua orang sekarang. Dan petugas yang pernah marah-marah kepada saya sudah tak ada lagi, mungkin sudah pensiun.

Selain mengirim kartu pos pakai bantuan Postcrossing, saya juga mengirim satu kartu pos pada seorang teman, memberi kabar bahwa saya aktif lagi mengirim kartu pos (walau tak seintens dulu).

Saat ini, saya sudah kehabisan kartu pos serta perangko (karena pada awalnya stok saya memang sedikit). Mungkin saya bakal cari di gudang rumah, karena saya teringat pernah menaruh kartu pos di sana.

Mungkin yang sedang membaca tulisan ini ingin kartu pos (dari saya)? Kabari saja lewat email atau akun fedi saya yang tertera di sini, dan saya akan mengirimkan kartu pos untuk kalian (saya akan memilih kartu pos terbaik yang bisa saya dapat).